Lets Learn With Heart

Knowledge is Useful 4 Our Happiness

Andaikata Rasulullah Menjadi Tamu Kita

 tahajud.jpgtahajud4.jpgtahajud5.jpg

Bayangkan apabila Rasulullah dengan seijin Allah tiba-tiba muncul mengetuk pintu rumah kita. Beliau datang dengan tersenyum dan muka bersih di muka pintu rumah kita, Apa yang akan kita lakukan? Mestinya kita akan sangat berbahagia, memeluk beliau erat-erat dan lantas mempersilahkan beliau masuk ke ruang tamu kita. Kemudian kita tentunya akan meminta dengan sangat agar Rasulullah sudi menginap beberapa hari di rumah kita.

Beliau tentu tersenyum……..

Tapi barangkali kita meminta pula Rasulullah menunggu sebentar di depan pintu karena kita teringat Video CD rated R18+ yang ada di ruang tengah dan kita tergesa-gesa memindahkan dahulu video tersebut ke dalam.

Beliau tentu tetap tersenyum……..

Atau barangkali kita teringat akan lukisan wanita setengah telanjang yang kita pajang di ruang tamu kita, sehingga kita terpaksa juga memindahkannya ke belakang secara tergesa-gesa.
Barangkali kita akan memindahkan lafal Allah dan Muhammad yang ada di ruang samping dan kita meletakkannya di ruang tamu.

Beliau tentu tersenyum…….

Bagaimana bila kemudian Rasulullah bersedia menginap di rumah kita? Barangkali kita teringat bahwa kita lebih hapal lagu-lagu barat daripada menghapal Shalawat kepada Rasulullah SAW.
Barangkali kita menjadi malu bahwa kita tidak mengetahui sedikitpun sejarah Rasulullah SAW karena kita lupa dan lalai mempelajarinya.

Beliau tentu tersenyum……..

Barangkali kita menjadi malu bahwa kita tidak mengetahui satupun nama keluarga Rasulullah dan sahabatnya tetapi hapal di luar kepala mengenai anggota Indonesian Idols atau AFI.
Barangkali kita terpaksa harus menyulap satu kamar mandi menjadi ruang shalat. Atau barangkali kita teringat bahwa perempuan di rumah kita tidak memiliki koleksi pakaian yang pantas untuk berhadapan kepada Rasulullah.

Beliau tentu tersenyum……..

Belum lagi koleksi buku-buku kita. Belum lagi koleksi kaset kita. Belum lagi koleksi karaoke kita. Kemana kita harus menyingkirkan semua koleksi tersebut demi menghormati junjungan kita?
Barangkali kita menjadi malu diketahui junjungan kita bahwa kita tidak pernah ke masjid meskipun adzan berbunyi.

Beliau tentu tersenyum……..

Barangkali kita menjadi malu karena pada saat Maghrib keluarga kita malah sibuk di depan TV.
Barangkali kita menjadi malu karena kita menghabiskan hampir seluruh waktu kita untuk mencari kesenangan duniawi.
Barangkali kita menjadi malu karena keluarga kita tidak pernah menjalankan shalat sunnah.
Barangkali kita menjadi malu karena keluarga kita sangat jarang membaca Al-Qur’an.
Barangkali kita menjadi malu bahwa kita tidak mengenal tetangga-tetangga kita.

Beliau tentu tersenyum…….

Barangkali kita menjadi malu jika Rasulullah menanyakan kepada kita siapa nama tukang sampah yang setiap hari lewat di depan rumah kita.
Barangkali kita menjadi malu jika Rasulullah bertanya tentang nama dan alamat tukang penjaga masjid di kampung kita.

Betapa senyum beliau masih ada di situ……..

Bayangkan apabila Rasulullah tiba-tiba muncul di depan rumah kita. Apa yang akan kita lakukan? Masihkah kita memeluk junjungan kita dan mempersilahkan beliau masuk dan menginap di rumah kita?

Ataukah akhirnya dengan berat hati, kita akan menolak beliau berkunjung ke rumah karena hal itu akan sangat membuat kita repot dan malu.

Maafkan kami ya Rasulullah………

Masihkah beliau tersenyum?


Senyum pilu, senyum sedih dan senyum getir……..

Oh betapa memalukannya kehidupan kita saat ini di mata Rasulullah……..

Pikiran yang terbuka dan mulut yang tertutup merupakan suatu kombinasi kebahagiaan.

Jangan jadikan Penghalang sebagai hambatan, tetapi jadikan sebagai pendorong aktifitas.

Siapa yang mendiamkan saja kejahatan merajalela, dia itu membantu kejahatan!

Sehalus-halusnya musibah adalah ketika kedekatan kita denganNya perlahan-lahan terenggut dan itu biasanya ditandai dengan menurunnya kualitas ibadah.

 tahajud2.jpgtahajud3.jpg

Advertisements

March 20, 2008 Posted by | Sirrah | Leave a comment

Dibalik Kehidupan insan bernama: “Muhammad”

padang-pasir.jpg tuk-rasul3.jpgtuk-rasul.jpg

Kalau ada pakaian yang koyak,

Rasulullah menambalnya sendiri tanpa perlu menyuruh isterinya.

 Beliau juga memerah susu kambing

untuk keperluan  keluarga maupun untuk dijual.

 Setiap kali pulang ke rumah,

bila dilihat tiada makanan yang sudah siap di masak untuk dimakan,

sambil tersenyum baginda menyingsing lengan bajunya

untuk membantu isterinya di dapur.

 Sayidatina ‘Aisyah menceritakan:

”Kalau Nabi berada di rumah,

beliau selalu membantu urusan rumahtangga.

 

Jika mendengar azan,

beliau cepat-cepat berangkat ke masjid,

dan cepat-cepat pulang kembali sesudah selesai sembahyang.”

 Pernah baginda bersabda,

“sebaik-baik lelaki adalah yang paling baik dan lemah lembut terhadap isterinya.” 

 Prihatin, sabar dan tawadhuknya baginda sebagai

 kepala keluarga.

 Pada suatu ketika baginda menjadi imam solat. Dilihat oleh para sahabat, pergerakan baginda antara satu rukun ke satu rukun yang lain amat sukar sekali. Dan mereka mendengar bunyi menggerutup seolah-olah sendi-sendi pada tubuh baginda yang mulia itu bergeser antara satu sama lain.

Sayidina Umar yang tidak tahan melihat keadaan baginda itu

langsung bertanya setelah selesai bersembahyang :

 “Ya Rasulullah, kami melihat seolah-olah tuan menanggung penderitaan yang amat berat, tuan sakitkah ya Rasulullah?”

“Tidak, ya Umar. Alhamdulillah, aku sehat dan segar”

“Ya Rasulullah… mengapa setiap kali tuan menggerakkan tubuh,

kami mendengar seolah-olah sendi bergesekan di tubuh tuan?

Kami yakin engkau sedang sakit…”

desak Umar penuh cemas.

Akhirnya Rasulullah mengangkat jubahnya.

Para sahabat amat terkejut. Perut baginda yang kempis, kelihatan dililiti sehelai kain yang berisi batu kerikil, buat menahan rasa lapar. Batu-batu kecil itulah yang menimbulkan bunyi-bunyi halus setiap kali bergeraknya tubuh baginda.

 “Ya Rasulullah! Adakah bila tuan menyatakan lapar dan tidak punya makanan, kami tidak akan mendapatkannya buat tuan?” 

 Lalu baginda menjawab dengan lembut,

”Tidak para sahabatku. Aku tahu, apa pun akan engkau korbankan demi Rasulmu. Tetapi apakah akan aku jawab di hadapan ALLAH nanti, apabila aku sebagai pemimpin, menjadi beban kepada umatnya?” “Biarlah kelaparan ini sebagai hadiah ALLAH buatku, agar umatku kelak tidak ada yang kelaparan di dunia ini lebih-lebih lagi tiada yang kelaparan di Akhirat kelak.”

mekkah.jpg rumah-rasulullah.jpgtuk-rasul-2.jpgtuk-rasul4.jpg

Baginda pernah tanpa rasa canggung sedikitpun makan

di sebelah seorang tua

yang penuh kudis, miskin dan kotor.

 Hanya diam dan bersabar

bila kain rida’nya direntap dengan kasar oleh seorang Arab Badwi hingga berbekas merah di lehernya.

 Dan dengan penuh rasa kehambaan

baginda membasuh tempat
yang dikencingi si Badwi di dalam masjid

sebelum menegur dengan lembut perbuatan itu.

Kecintaannya yang tinggi terhadap ALLAH swt

dan rasa kehambaan dalam diri Rasulullah saw

menolak sama sekali rasa ketuanan.

 Seolah-olah anugerah kemuliaan dari ALLAH

tidak dijadikan sebab untuk merasa lebih dari yang lain,

ketika di depan umum maupun dalam keseorangan.

 Ketika pintu Syurga telah terbuka,

seluas-luasnya untuk baginda,

baginda masih berdiri di waktu-waktu sepi malam hari,

 terus-menerus beribadah,

hingga pernah baginda terjatuh,

lantaran kakinya sudah bengkak-bengkak.

Fisiknya sudah tidak mampu menanggung

kemahuan jiwanya yang tinggi.

 Bila ditanya oleh Sayidatina ‘Aisyah,

“Ya Rasulullah, bukankah engkau telah dijamin Syurga? Mengapa engkau masih bersusah payah begini?”

Jawab baginda dengan lunak,

“Ya ‘Aisyah, bukankah aku ini hanyalah seorang hamba? Sesungguhnya aku ingin menjadi hamba-Nya yang bersyukur.”

Rasulullah s. a. w. bersabda,

“Sampaikan pesanku walau sepotong ayat”

 

 

 

March 18, 2008 Posted by | Sirrah | Leave a comment