Lets Learn With Heart

Knowledge is Useful 4 Our Happiness

Bila Cinta Tak Berbalas

Maaf Akhi, bukannya saya tidak menghormati permintaan akhi. Tapi rasanya
kita cukup menjalin ukhuwah saja dalam perjuangan. Saya doakan semoga akhi
menemukan pasangan lain yang lebih baik dari saya.

Amboi, bagaimana rasanya bila kalimat di atas dialami oleh para ikhwan? Bisa saja
langit terasa runtuh, hati berkeping-keping. Sang pujaan hati yang kita
harapkan menjadi teman setia dalam mengarungi perjalanan hidup menampik khitbah
kita. Segala asa yang pernah coba ditambatkan akhirnya karam. Cinta suci sang
ikhwan bertepuk sebelah tangan.

Ya drama kehidupan menuju meghligai pelaminan memang beragam. Ada yang
menjalaninya dengan smooth, amat
mulus, tapi ada yang berliku penuh onak duri, bahkan ada yang pupus ditengah
perjalanan karena cintanya tak bertaut dalam maghligai pernikahan.

Ini bukan saja
dialami oleh para ikhwan, kaum akhwat pun bias mengalaminya. Bedanya, para
ikhwan mengalami secara langsung karena posisi mereka sebagai subyek/pelaku
aktif dalam proses melamar. Sehingga getirnya kegagalan cinta
seandainya memang terasa getir- langsung terasa.
Sedangkan kaum akhwat perasaanya lebih aman tersembunyi karena mereka umumnya
berposisi pasif, menunggu pinangan. Tapi manakala sang ikhwan yang didamba
memilih berlabuh dihati yang lain kekecewaan juga merebak dihati mereka.

Mengambil sikap

Ikhwan dan akhwat rahimakumullah, siapapun
berhak kecewa manakala keinginan dan cita-citanya tidak tercapai. Perasaan
kecewa adalah bagian dari gharizatul baqa’ (naluri
mempertahankan diri) yang Allah ciptakan pada manusia. Dengannya, manusia
adalah manusia bukan onggokan daging dan tulang belulang. Ia juga bukan robot
yang bergerak tanpa perasaan, tapi manusia memiliki aneka emosi jiwa.
Ia bisa bergembira tapi juga bisa kecewa.

Emosi negatif, seperti perasaan kecewa
akibat tertolak, bukannya tanpa hikmah. Kesedihan akan memperhalus perasaan
manusia, bahkan akan meningkatkan kepekaannya pada sesama. Bila dikelola dengan
baik maka akan semakin matanglah emosi yang terbentuk. Tidak meledak-ledak lalu
lenyap seketika. Ia akan siap untuk kesempatan berikutnya; kecewa ataupun
bergembira. Jadi mengapa tidak bersyukur manakala kita ternyata bisa kecewa?
Karena berarti kita
adalah manusia seutuhnya.

Kegagalan meraih cinta juga bukan pertanda bencana. Tapi akan memberikan pelajaran
beharga pada manusia. Seorang filsuf bernama John Charles Salak mengatakan : Orang-orang yang gagal dibagi menjadi dua; yaitu
mereka yang berfikir gagal padahal tidak pernah melakukannya, dan mereka yang
melakukan kegagalan dan tak penah memikirkannya.

Karenanya kegagalan bukanlah akhir dari
segalanya, tapi justru awal dari segala-galanya. Meski terdengar klise tapi ada
benarnya; ambillah pelajaran dari sebuah kegagalan lalu buatlah perbaikan diri.
Tentu saja itu dengan tetap mengimani qadla Allah SWT.

Agar kegagalan mengkhitbah tidak
menjadi petaka, maka ikhwan dan akhwat, persiapkanlah diri sebaik-baiknya, ada
beberapa langkah yang bisa diambil:

Percayai  qadla

Manusia tidak suka dengan penolakan. Ia ingin semua keinginannya selalu terpenuhi. Padahal
ditolak adalah salah satu bagian dari kehidupan kita. Kata seorang kawan, hidup
itu adakalanya tidak bisa memilih. Perkataan itu benar adanya, cobalah kita
renungkan, kita lahir kedunia ini tanpa ada pilihan; terlahir sebagai seorang
pria atau wanita, berkulit coklat atau putih, berbeda suku bangsa, dsb.
Demikian pula rezeki dan jodoh adalah hal yang berada di luar pilihan kita. Man propose, god dispose. Kita hanya bisa
menduga dan berikhtiar, tapi Allah jua yang menentukan.

Sesungguhnya salah seorang di antara kalian dikumpulkan penciptaannya di
dalam rahim ibunya selama 40 hari kemudian menjadi
alaqah kemudian menjadi janin, lalu Allah mengutus malaikat dan
diperintahkannya dengan empat kata dan dikatakan padanya: tulislah amalnya,
rizkinya dan ajalnya.
(HR.Bukhari)

Maka kokohkanlah keimanan saat momen itu terjadi pada kita. Yakinilah skenario Allah
tengah berlangsung, dan jadilah penyimak yang baik dengan penuh sangka yang
baik padaNya. Tanamkan dalam diri kita
Allah
Mahatahu yang terbaik bagi hamba-hambaNya’.

Jangan biarkan kekecewaan menggerogoti keimanan kita kepadaNya. Apalagi dengan terus
menanamkan prasangka buruk padaNya. Segerahlah sadar bahwa ini adalah ujian
dari Allah . akankah kita menerima qadla-Nya atau merutuknya?

Dengan demikian, fragmen yang pahit dalam kehidupan InsyaAllah akan memperkuat
keyakinan kita bahwa Allah sayang pada kita. Demikian sayangnya, sampai-sampai
Allah tidak rela menjodohkan kita dengan si fulan yang kita sangka sebagai
pelabuhan cinta kita.

Bersiap untuk cinta dan bahagia

Seandainya ukhti menjadi istri saya, saya berjanji akan membahagiakan ukhti, demikian
ungkapan keinginan para ikhwan terhadap akhwat yang akan mereka lamar. Puluhan,
mungkin ratusan angan-angan kita siapkan seandainya si dia menerima pinangan
cinta kita. Kita begitu siap untuk berbahagia dan membahagiakan orang lain.
Sama seperti banyak orang yang ingin menjadi kaya, tenar dan dipuja banyak
orang.

Sayang, banyak diantara kita yang belum siap untuk merasa kecewa. Dan ketika impian itu
berakhir kita seperti terhempas. Tidak percaya bahwa itu bisa terjadi, ada
akhwat yang
berani’ menolak pinangan
kita. Bila kurang waras, mungkin akan keluar ucapan, berani-beraninya… atau
apa yang kurang dari saya…..?!

Akhi dan ukhti, jangan biarkan angan-angan membuai kita dan membuat diri menjadi tulul amal, panjang angan-angan.
Sadarilah semakin tinggi angan membuai kita, semakin sakit manakala tak
tergapai dan terjatuh. Ambillah sikap simbang setiap saat; bersiap diri menjadi
senang sekaligus kecewa. Sikap itu akan menjadi bufferl penyangga mental kita, apapun yang terjadi kelak.

Manakala kenyataan pahit yang ada di depan mata, sang akhwat menolak khitbah kita atau
sang ikhwan memilih
bunga’ yang lain, hati
ini tidak akan tercabik. Yang akan datang adalah keikhlasan dan sikap lapang
dada. Demikian pula saat ia menjatuhkan pilihannya pada kita, hati ini akan
bersyukur padaNya karena doa terkabul, keinginan menjadi kenyataan.

Menakjubkan perkara seorang mukmin, sesungguhnya urusannya seluruhnya baik
dan tidaklah hal itu dimiliki oleh seseorang kecuali bagi seorang mukmin. Jika
mendapat nikmat ia bersyukur maka hal itu baik baginya, dan jika menderita
kesusahan ia bersabar maka hal itu lebih baik baginya” (HR. Muslim)

Bukan Aib

Ditolak? Emang enak! Wah, mungkin demikian pikiran sebagian ikhwan. Malu, kesal dan kecewa
menjadi satu. Tapi itulah bentuk
perjuangan’ menuju
pernikahan. Kita tidak akan pernah tahu apakah sang pujaan menerima atau
menolak kita, kecuali setelah mengajukan pinangan padanya. Manakala ditolak
tidak usah malu, bukan cuma kita yang pernah ditolak, banyak ikhwan yang
senasib’ dan sependeritaan’.

Saatnya berjiwa besar ketika ditolak. Tidak perlu merasa terhina. Demikian pula saat
banyak orang tahu hal itu. Bukankah apa yang kita lakukan adalah sesuatu yang
benar? Mengapa mesti malu.

Kita mungkin takkan Bahagia’

Marah-marah karena lamaran tertolak? Mendoakan keburukan pada ikhwan yang tidak mencintai
kita? Itu bukan sikap seorang muslim/muslimah yang baik. Tidak ada yang bisa
melarang seseorang untuk jatuh cinta maupun menolak cinta. Sebagaimana kita
punya hak untuk mencintai dan melamar orang, maka ada pula hak yang diberikan
agama pada orang lain untuk menolak pinangan kita. Bahkan dalam kehidupan rumah
tangga pun seorang suami dan istri diberikan hak oleh Allah SWT. Untuk
membatalkan sebuah ikatan pernikahan.

Mengapa ada hak penolakan cinta yang diberikan Allah pada kita? Bahkan dalam pernikahan
ada pintu keluar
perceraian’?
jawabannya adalah sangat mungkin manusia yang jatuh cinta atau setelah
membangun rumah tangga, ternyata tak kunjung memperoleh kebahagiaan ( al hanaah ) dari pasangannya, maka tiada
guna mempertahankan sebuah bahtera rumah tangga bila kebahagiaan dan
ketentraman tak dapat diraih. Wallahu’alam
bi ash shawab

Talak (yang dapat dirujuki) dua kali. Setelah itu boleh rujuk lagi dengan cara yang ma’ruf
atau menceraikan dengan cara yang baik. (
Al-Baqarah[2]:229 )

Berpikir positiflah manakala cinta tak berbalas. Belum tentu kita memperoleh kebahagiaan
bila hidup bersamanya. Apa yang kita pandang baik secara kasat mata, belum
tentu berbuah kebaikan di kemudian hari.

Adakalanya keinginan untuk hidup bersama orang yang kita idamkan begitu menggoda. Tapi
bila ternyata cinta kita bertepuk sebelah tangan, untuk apa semua kita pikirkan
lagi? Allah Maha Pangatur, ia pasti akan mempertemukan kita dengan orang yang
memberikan kebahagiaan seperti yang kita angankan. Bahkan mungkin lebih dari
yang kita harapkan.

Be positive thinking, suatu hari kelak ketika antum telah menikah
dengan orang lain
bukan dengan
si dia yang antum idamkan- niscaya antum takjub dengan kebahagiaan yang antum
rasakan. Percayalah banyak orang yang telah merasakan hal demikian.

Saya tak mungkin berbahagia tanpanya’

ini adalah perangkap, ia akan memenjarakan kita terus menerus dalam kekecewaan. Perasaan
ini juga menghambat kita untuk mendapatkan kesempatan berbahagia dengan orang
lain. Mereka yang terus menerus mengingat orang yang pernah menolaknya, dan
masih terbius dengan angan-angannya sebenarnya tengah menyiksa perasaan mereka
sendiri dan menutup peluang untuk bahagia.

Mari berpikir jernih, untuk apa memikirkan orang lain yang sudah menjalani
kehidupannya sendiri? Jangan biarkan orang lain membatalkan kebahagiaan kita.
Diri kitalah yang bisa menciptakannya sendiri. Untuk itu tanamkan optimisme dan
keyakinan terhadap qadla Allah SWT. Insya Allah, akan ada orang yang
membahagiakan kita kelak.

Cinta membutuhkan waktu

Maukah ukhti menjadi istri saya? Saya tunggu jawaban ukhti dalam waktu 1 X 24 jam! Masya Allah,
cinta bukanlah martabak telor yang bisa di tunggu waktu matangnya. Ia
berproses, apalagi berbicara rumah tangga, pastinya banyak
pertimbangan-pertimbangan yang harus dipikirkan. Ada unsur keluarga yang harus
berperan. Selain juga ada pilihan-pilihan yang mungkin bisa diambil.

Jadi harap dipahami bila kesempatan datangnya cinta itu menunggu waktu. Seorang
akhwat yang akan dilamar
contoh extrim pada kasus diatas- bisa jadi tidak serta
merta menjawab. Biarkanlah ia berpikir dengan jernih sampai akhirnya ia
melahirkan keputusan. Jadi cara berpikir seperti di atas sebenarnya lebih cocok
dimiliki anggota tim SWAT ketimbang orang yang berkhitbah

Ideal bagus, Tapi realistik adalah sempurna

Suami yang saya dambakan adalah yang bertanggungjawab pada keluarga, giat berdakwah dan rajin
beribadah, cerdas serta pengertian, penyayang, humoris, mapan dan juga
tampan.Itu mungkin suami dambaan Anda duhai Ukhti . tapi jangan marah bila saya
katakan bahwa seandainya kriteria itu adalah harga mati yang tak tertawar, maka
yang ukhti butuhkan bukanlah seorang ikhwan melainkan kitab-kitab pembinaan.
Kenyataannya tidak ada satupun lelaki didunia ini yang bisa memenuhi semua
keinginan kita. Ada yang mapan tapi kurang rupawan, ada yang rajin beribadah
tapi kurang mapan, ada yang giat dakwah dakwah tapi selalu merasa benar
sendiri, dsb.

Ini bukan berarti kita tidak boleh memiliki kriteria bagi calon suami/istri kita,
lantas membuat kita mengubah prinsip menjadi yang penting akhwat
atau yang
penting ikhwan. Tapi realistislah, setiap menusia punya kekurangan sekaligus kelebihan. Mereka yang menikah
adalah orang-orang yang berani menerima kekurangan pasangannya, bukan
orang-orang yang sempurna. Tapi berpikir realistis terhadap orang yang akan
melamar kita, atau yang akan kita lamar, adalah kesempurnaan

Maka doa kita kepada Allah bukanlah,berikanlah padaku
pasangan yang sempurna tetapi ya Allah, karuniakanlah padaku pasangan yang baik
bagi agamaku dan duniaku.

Kekuatan Ruhiyah

Percaya diri itu harus, tapi overselfconfidence adalah
kesalahan. Jangan terlalu percaya diri akhi bahwa lamaran antum diterima.
Jangan juga terlalu yakin ukhti, bahwa sang pujaan akan datang ke rumah anti.
Perjodohan adalah perkara gaib. Tanpa ada seorang pun yang tahu kapan dan
dengan siapa kita akan berjodoh. Cinta dan berjodohan tidak mengenal status dan
identifikasi fisik. Bukan karena ukhti cantik maka para ikhwan menyukai ukhti.
Juga bukan karena akhi seorang hamalatud
da’wah
lalu setiap akhwat mendambakannya.

Kita tidak bisa mengukur kebahagiaan orang lain menurut persepsi kita. Bukankah sering kita
melihat seseorang yang menurut kita
luar
biasa
berjodoh dengan yang biasa-biasa’. Seperti seringnya kita melihat
pasangan yang ganteng dan cantik, populer tapi kemudian berpisah. Inilah
rahasia cinta dan perjodohan, tidak bisa terukur dengan ukuran-ukuran manusia

Maka landasilah rasa percaya diri kita dengan sikap tawakal kepada Allah. Kita
berserah diri kepadaNya akan keputusan yang ia berikan. Jauhilah sikap takkabur
dan sombong. Karena itu semua hanya akan membuat diri kita rendah dihadapan
Allah dan orang lain. Intinya saya bermaksud mengatakan
jangan ke-ge-er-an’
dengan segala title dan atribut yang melekat pada diri kita.

Beri cinta kesempatan (lagi)

……..dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa
dari rahmat Allah,melainkan kaum yang kafir.
( QS. Yusuf[12]:87 )

bersedih hati karena gagal bersanding dengan dambaan hati wajar adanya. Tapi bukan
alasan untuk menyurutkan langkah berumah tangga. Dunia ini luas, demikian pula
dengan orang-orang yang mencintai kita. Kegagalan cinta bukan berarti kita
tidak berhak bahagia atau tidak bisa meraih kebahagiaan. Bila hari ini Allah
belum mempertemukan kita dengan orang yang kita cintai, insyaAllah ia akan
datang esok atau lusa, atau kapanpun ia menghendaki, itu adalah bagian dari
kekuasaanNya

cinta juga berproses. Ia membutuhkan waktu. Ia bisa datang dengan cepat tak terduga atau
mungkin tidak seperti yang kita harapkan. Ada orang yang dengan cepat berumah
tangga, tapi ada pula yang merasakan segalanya berjalan lambat, namun tidak
pernah ada kata terlambat untuk merasakan kebahagiaan dalam pernikahan.
Beri kesempatan diri kita untuk kembali merasakan
kehangatan cinta. love is knocking outside the door.’ Kata
musisi Tesla dalam senandung love will find
a way.
Tidak pernah ada kata menyerah untuk meraih kebahagiaan
dalam naungan ridhoNya. Yang pokok, ikhwan atau akhwat yang kelak akan menjadi
pasangan kita adalah mereka yang dirihoi agamanya.

jika melamar kepada kalian seseorang yang kalian ridho agamanya dan akhlaknya maka nikahkanlah ia, bila kalian tidak melakukannya
maka akan ada fitnah di muka bumi dan kerusakan yang nyata
(HR. Turmudzi)

Wanita dinikahi karena satu dari tiga hal; dinikahi karena hartanya, dinikahi karena
kecantikannya, dinikahi karena agamanya. Maka pilihlah yang memiliki agama dan
akhlak (mulia) niscaya selamat dirimu.
(HR.Ahmad)

Oleh: Iwan Yanuar

April 17, 2008 - Posted by | Pembangun Jiwa

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: