Lets Learn With Heart

Knowledge is Useful 4 Our Happiness

Biar Kuncupnya Mekar Jadi Bunga

Ternyata obrolan kita tentang cinta belum selesai. Saya telah menyatakan sebelumnya betapa penting peranan kata itu dalam mengekspresikan kata cinta. Tapi itu bukan satu-satunya bentuk ekspresi cinta. Cinta merupakan sebentuk emosi manusiawi. Karena itu ia bersifat fluktuatif naik turun mengikuti semua anasir di dalam dan di luar di diri manusia yang mempengaruhinya. Itulah sebabnya saya juga mengatakan, mempertahankan dan merawat rasa cinta sesungguhnya jauh lebih sulit dari sekedar menumbuhkannya. Jadi obrolan kita belum selesai. Walaupun begitu, saya juga tidak merasakan adanya urgensi untuk menjawab pertanyaan ini: apa itu cinta? Itu terlalu filosofis. Saya lebih suka menjawab pertanyaan ini: bagaimana seharusnya anda mencintai? Pertanyaan ini melekat erat dalam kehidupan individu kita.

Cinta itu bunga; bunga yang tumbuh mekar dalam taman hati kita. Taman itu adalah kebenaran. Apa yg dengan kuat menumbuhkan, mengembangkan, dan memekarkan bunga-bunga adalah air dan matahari. Air dan matahari adalah kebaikan. Air memberinya kesejukan dan ketenangan, tapi matahari memberinya gelora kehidupan. Cinta, dengan begitu, merupakan dinamika yg bergulir secara sadar di atas latar wadah perasaan kita. Maka begitulah seharusnya anda mencintai; menyejukkan, menenangkan, namun juga menggelorakan. Dan semua makna itu terangkum dalam kata ini: menghidupkan. Anda mungkin dekat dengan peristiwa ini; bagaimana istri anda melahirkan seorang bayi, lalu merawatnya, dan menumbuhkannya, mengembangkannya serta menjaganya. Ia dengan tulus berusaha memberinya kehidupan. Bila anda ingin mencintai dengan kuat, maka anda harus mampu memperhatikan dengan baik, menerimanya apa adanya dengan tulus, lalu berusaha mengembangkannya semaksimal mungkin, kemudian merawatnya… menjaganya dengan sabar.

Itulah rangkaian kerja besar para pecinta; pengenalan, penerimaan, pengembangan dan perawatan. Apakah anda telah mengenal isteri anda dengan seksama? Apakah anda mengetahui dengan baik titik kekuatan dan kelemahannya? Apakah anda mengenal kecenderungan-kecenderungannya? Apakah anda mengenal pola-pola ungkapannya; melalui pemaknaan khusus dalam penggunaan kata, melalui gerak motorik refleksinya, melalui isyarat rona wajahnya, melalui tatapannya, melalui sudut matanya? Apakah anda dapat merasakan getaran jiwanya, saat ia suka dan saat ia benci, saat ia takut dan begitu membutuhkan perlindungan? Apakah anda dapat melihat gelombang-gelombang mimpi-mimpinya, harapan-harapannya? Sekarang perhatikanlah bagaimana tingkat pengenalan Rosululloh saw terhadap istrinya, Aisyah. Suatu waktu beliau berkata, “Wahai Aisyah, aku tahu kapan saatnya kamu ridha dan kapan saatnya kamu marah padaku. Jika kamu ridha, maka kamu akan memanggilku dengan sebutan: Ya Rosulullah! tapi jika kamu marah padaku, kamu akan memanggilku dengan sebutan: Ya Muhammad!. Apakah beda antara Rosululloh dan Muhammad kalau toh obyeknya itu-itu saja? Tapi Aisyah telah memberikan pemaknaan khusus ketika ia menggunakan kata yang satu pada situasi jiwa yang lain. Pengenalan yang baik harus disertai penerimaan yang utuh. Anda harus mampu menerimanya apa adanya.

Apa yang sering menghambat dlm proses penerimaan total itu adalah pengenalan yang tidak utuh atau “obsesi” yang berlebihan terhadap fisik. Anda tidak akan pernah dapat mencintai seseorang secara kuat dan dalam kecuali jika anda dapat menerima apa adanya. Dan ini tidak selalu berarti bahwa anda menyukai kekurangan dan kelemahannya. Ini lebih berarti bahwa kelemahan dan kekurangan bukanlah kondisi akhir kepribadiannya, dan selalu ada peluang untuk berubah dan berkembang. Dengan perasaan itulah seorang ibu melihat bayinya. Apakah yg ia harap dari bayi kecil itu ketika ia merawatnya, menjaganya, dan menumbuhkannya? Apakah ia yakin bahwa kelak anak itu akan membalas kebaikannya? Tidak. Semua yg ada dlm jiwanya adalah keyakinan bahwa bayi ini punya peluang utk berubah dan berkembang. Dan karenanya ia menyimpan harapan besar dlm hatinya bahwa kelak hari-hari jugalah yg akan menjadikan segalanya lebih baik. Penerimaan positif itulah yang mengantar kita pada kerja mencintai selanjutnya; pengembangan. Pada mulanya seorang wanita adalah kuncup yg tertutup. Ketika ia memasuki rumah anda, memasuki wilayah kekuasaan anda, menjadi istri anda, menjadi ibu anak-anak anda; Andalah yg bertugas membuka kelopak kuncup itu, meniupnya perlahan, agar ia mekar menjadi bunga. Andalah yg harus menyirami bunga itu dengan air kebaikan, membuka semua pintu hati anda baginya, agar ia dapat menikmati cahaya matahari yg akan memberinya gelora kehidupan. Hanya dengan kebaikanlah bunga-bunga cinta bersemi.

Dan ungkapan “Aku Cinta Kamu” boleh jadi akan kehilangan makna ketika ia dikelilingi perlakuan yang tidak simpatik (dan tidak menyenangkan). Apa yg harus anda berikan kepada istri anda adalah peluang untuk berkembang, keberanian menyaksikan perkembangannya tanpa harus merasa superioritas anda terganggu. Ini tidak berarti anda harus memberi semua yang ia senangi, tapi berikanlah apa yg ia butuhkan. Tetapi setiap perkembangan harus tetap berjalan dlm keseimbangan. Dan inilah fungsi perawatan dari rasa cinta. Tidak boleh ada perkembangan yang mengganggu posisi dan komunikasi. Itulah sebabnya terkadang anda perlu memotong sejumlah (ranting atau cabang) yg sudah kepanjangan agar tetap terlihat serasi dan harmoni. Hidup adalah simponi yg kita mainkan dengan indah. Maka, duduklah sejenak bersama dengan istri anda, tatap matanya lamat-lamat, dengarkan suara batinnya, getaran nuraninya, dan diam-diam bertanyalah pada diri sendiri: Apakah ia telah menjadi lebih baik sejak hidup bersama dengan anda? Mungkinkah suatu saat ia akan mengucapkan puisi Iqbal tentang gurunya: DAN NAFAS CINTANYA MENIUP KUNCUPKU … MAKA IA MEKAR MENJADI BUNGA …

Ustadz Anis Matta LC

Juli 2, 2008 Ditulis oleh learnwithedo | Pembangun Jiwa | | & Komentar

Mengembalikan Kekuatan Iman

Persoalan keimanan yang sedang menurun seringkali menjadi tema keluhan banyak orang; merasakan bahwa dirinya kehilangan keikhlasan dalam melakukan ketaatan dan sebagainya. Menyadari iman kita yang sedang menurun, sesungguhnya sudah merupakan satu kemajuan. Sebab itu artinya kita punya kemauan untuk memperbaiki diri.Dan Alloh SWT sangat gembira dengan orang yang datang kepadaNya. Dia tidak pernah menutup pintu rahmatNya kecuali orang yang menutup dirinya sendiri.Bahkan Alloh akan melipat gandakan kekuatan dan usaha yang diri kepadaNya.

Dalam sebuah hadits qudsi disebutkan, bahwa Alloh berfirman, “Aku seperti prasangka hambaKu terhadapKu, dan Aku menyertainya tatkala ia mengingatKu. Jika ia menyebutKu dalam dirinya maka akan Aku sebut dia dalam diriKu. Jika ia menyebutKu ditengah orang banyak, Aku pun akan menyebutNya dengan sekumpulan orang yang lebih baik dari mereka. Jika ia mendekatiKu sejengkal, maka Aku mendekat kepadanya Sehasta. Jika ia mendekatiKu Sehasta, maka Aku mendekat kepadanya sedepa. Jika ia mendatangi sambil berjalan maka Aku mendatanginya sambil berlari.” (HR. Bukhari)

Bagaimana kita mendekatkan diri kepada Alloh agar keimanan kembali meningkat? DR. Fathi Yakan menyebutkan beberapa hal yang sangat sederhana untuk menjaga dan mengembalikan kekuatan iman kita, dengan menguraikan faedah-faedahnya.Diantaranya:

· Melakukan 12 rakaat shalat sunnah, yaitu 2 rakaat sebelum subuh, 4 rakaat sebelum zhuhur dan 2 rakaat sesudahnya, 2 rakaat setelah maghrib,dan 2 rakaat setelah isya. Faidahnya, Alloh akan membangunkan sebuah rumah di surga bagi orang yang senantiasa melakukannya. Seperti sabda Rasulullah, ”Siapa yang shalat setiap hari 12 rakaat, maka Alloh akan membangunkan sebuah rumah untuknya di surga” (HR.Muslim)

· Melakukan shalat 2 rakaat diwaktu malam. Faidahnya, do’a dikabulkan, dosa diampuni, dan kebutuhannya dipenuhi. Rasulullah bersabda, “Rabb kami tabaraka wataala setiap malam turun kelangit dunia disepertiga malam yang terakhir.Dia berfirman,”Siapa yang berdo’a maka akan Aku kabulkan,siapa yang meminta akan Aku beri, dan siapa yang meminta ampun kepadaKu akan Aku ampuni.” (HR.Bukhari)

· Melakukan shalat Dhuha 2,4, atau 8 rakaat. Faidahnya, setara dengan sedekah yang harus kita penuhi untuk setiap persendian kita dalam setiap hari. Rasulullah bersabda, “Disetiap pagi setiap persendian seorang diantara kalian membutuhkan sedekah. Maka setiap tasbih,tahmid,tahlil,takbir, menyeru kepada kebaikan, dan mencegah kemungkaran adalah sedekah.Dan itu dapat disetarai dengan 2 rakaat yang dilakukan diwaktu dhuha.” (HR. Muslim)

· Membaca surat Al Mulk. Manfaatnya, menyelamatkan dari azab kubur. Rasulullah bersabda,” Sesungguhnya ada sebuah surat didalam Al-qur’an yang terdiri 30 ayat, akan memberi syafaat kepada seorang laki-laki (yang membacanya) hingga dia diampuni.” (Hadits Hasan, riwayat Tirmidzi dan Ahmad)

· Membaca “Laa ilaaha illallohu wahdahu laa syarika lahu, lahul mulku wa lahul hamdu, wa hua alaa kulli syain qadiir” 100 x setiap hari, manfaatnya, setara dengan membebaskan 10 orang budak, dicatat sebagai 100 kebaikan, menghapus 100 dosa (kecil), dan sebagai benteng dari syetan. (HR. Muslim)

· Membaca shalawat atas Nabi SAW. Manfaatnya, dijauhkan dari sifat kikir. Rasulullah Saw bersabda, “Siapa yang bershalawat atasku satu shalawat maka Alloh akan bershalawat untuknya sepuluh kali dengannya.” (HR.Muslim)

· Selalu beristighfar karena istighfar dapat menghilangkan kesulitan dan meluaskan rezeki. Rasulullah saw bersabda, “ Siapa yang selalu beristighfar maka Alloh akan memberi jalan dari setiap kesulitan dan kegundahannya, dan memberinya rezeki dari arah yang tdak disangka-sangka.”(HR.Abu Daud, Ibnu Majah dan Al Hakim)

Sebagai nasihat terakhir, selalu merefleksi diri tentang hal-hal yang akan ditanyakan kepada diri anda di hari kemudian nanti. Ketika kita selalu merasa kekurangan, ketika itu pula kita akan selalu punya semangat untuk menambah dan menambah amal-amal kita yang sangat kurang. Wallahu a’lam bish shawab.

Juni 2, 2008 Ditulis oleh learnwithedo | Pembangun Jiwa, Uncategorized | | Belum Ada Tanggapan

Bila Cinta Tak Berbalas

Maaf Akhi, bukannya saya tidak menghormati permintaan akhi. Tapi rasanya
kita cukup menjalin ukhuwah saja dalam perjuangan. Saya doakan semoga akhi
menemukan pasangan lain yang lebih baik dari saya.

Amboi, bagaimana rasanya bila kalimat di atas dialami oleh para ikhwan? Bisa saja
langit terasa runtuh, hati berkeping-keping. Sang pujaan hati yang kita
harapkan menjadi teman setia dalam mengarungi perjalanan hidup menampik khitbah
kita. Segala asa yang pernah coba ditambatkan akhirnya karam. Cinta suci sang
ikhwan bertepuk sebelah tangan.

Ya drama kehidupan menuju meghligai pelaminan memang beragam. Ada yang
menjalaninya dengan smooth, amat
mulus, tapi ada yang berliku penuh onak duri, bahkan ada yang pupus ditengah
perjalanan karena cintanya tak bertaut dalam maghligai pernikahan.

Ini bukan saja
dialami oleh para ikhwan, kaum akhwat pun bias mengalaminya. Bedanya, para
ikhwan mengalami secara langsung karena posisi mereka sebagai subyek/pelaku
aktif dalam proses melamar. Sehingga getirnya kegagalan cinta
seandainya memang terasa getir- langsung terasa.
Sedangkan kaum akhwat perasaanya lebih aman tersembunyi karena mereka umumnya
berposisi pasif, menunggu pinangan. Tapi manakala sang ikhwan yang didamba
memilih berlabuh dihati yang lain kekecewaan juga merebak dihati mereka.

Mengambil sikap

Ikhwan dan akhwat rahimakumullah, siapapun
berhak kecewa manakala keinginan dan cita-citanya tidak tercapai. Perasaan
kecewa adalah bagian dari gharizatul baqa’ (naluri
mempertahankan diri) yang Allah ciptakan pada manusia. Dengannya, manusia
adalah manusia bukan onggokan daging dan tulang belulang. Ia juga bukan robot
yang bergerak tanpa perasaan, tapi manusia memiliki aneka emosi jiwa.
Ia bisa bergembira tapi juga bisa kecewa.

Emosi negatif, seperti perasaan kecewa
akibat tertolak, bukannya tanpa hikmah. Kesedihan akan memperhalus perasaan
manusia, bahkan akan meningkatkan kepekaannya pada sesama. Bila dikelola dengan
baik maka akan semakin matanglah emosi yang terbentuk. Tidak meledak-ledak lalu
lenyap seketika. Ia akan siap untuk kesempatan berikutnya; kecewa ataupun
bergembira. Jadi mengapa tidak bersyukur manakala kita ternyata bisa kecewa?
Karena berarti kita
adalah manusia seutuhnya.

Kegagalan meraih cinta juga bukan pertanda bencana. Tapi akan memberikan pelajaran
beharga pada manusia. Seorang filsuf bernama John Charles Salak mengatakan : Orang-orang yang gagal dibagi menjadi dua; yaitu
mereka yang berfikir gagal padahal tidak pernah melakukannya, dan mereka yang
melakukan kegagalan dan tak penah memikirkannya.

Karenanya kegagalan bukanlah akhir dari
segalanya, tapi justru awal dari segala-galanya. Meski terdengar klise tapi ada
benarnya; ambillah pelajaran dari sebuah kegagalan lalu buatlah perbaikan diri.
Tentu saja itu dengan tetap mengimani qadla Allah SWT.

Agar kegagalan mengkhitbah tidak
menjadi petaka, maka ikhwan dan akhwat, persiapkanlah diri sebaik-baiknya, ada
beberapa langkah yang bisa diambil:

Percayai  qadla

Manusia tidak suka dengan penolakan. Ia ingin semua keinginannya selalu terpenuhi. Padahal
ditolak adalah salah satu bagian dari kehidupan kita. Kata seorang kawan, hidup
itu adakalanya tidak bisa memilih. Perkataan itu benar adanya, cobalah kita
renungkan, kita lahir kedunia ini tanpa ada pilihan; terlahir sebagai seorang
pria atau wanita, berkulit coklat atau putih, berbeda suku bangsa, dsb.
Demikian pula rezeki dan jodoh adalah hal yang berada di luar pilihan kita. Man propose, god dispose. Kita hanya bisa
menduga dan berikhtiar, tapi Allah jua yang menentukan.

Sesungguhnya salah seorang di antara kalian dikumpulkan penciptaannya di
dalam rahim ibunya selama 40 hari kemudian menjadi
alaqah kemudian menjadi janin, lalu Allah mengutus malaikat dan
diperintahkannya dengan empat kata dan dikatakan padanya: tulislah amalnya,
rizkinya dan ajalnya.
(HR.Bukhari)

Maka kokohkanlah keimanan saat momen itu terjadi pada kita. Yakinilah skenario Allah
tengah berlangsung, dan jadilah penyimak yang baik dengan penuh sangka yang
baik padaNya. Tanamkan dalam diri kita
Allah
Mahatahu yang terbaik bagi hamba-hambaNya’.

Jangan biarkan kekecewaan menggerogoti keimanan kita kepadaNya. Apalagi dengan terus
menanamkan prasangka buruk padaNya. Segerahlah sadar bahwa ini adalah ujian
dari Allah . akankah kita menerima qadla-Nya atau merutuknya?

Dengan demikian, fragmen yang pahit dalam kehidupan InsyaAllah akan memperkuat
keyakinan kita bahwa Allah sayang pada kita. Demikian sayangnya, sampai-sampai
Allah tidak rela menjodohkan kita dengan si fulan yang kita sangka sebagai
pelabuhan cinta kita.

Bersiap untuk cinta dan bahagia

Seandainya ukhti menjadi istri saya, saya berjanji akan membahagiakan ukhti, demikian
ungkapan keinginan para ikhwan terhadap akhwat yang akan mereka lamar. Puluhan,
mungkin ratusan angan-angan kita siapkan seandainya si dia menerima pinangan
cinta kita. Kita begitu siap untuk berbahagia dan membahagiakan orang lain.
Sama seperti banyak orang yang ingin menjadi kaya, tenar dan dipuja banyak
orang.

Sayang, banyak diantara kita yang belum siap untuk merasa kecewa. Dan ketika impian itu
berakhir kita seperti terhempas. Tidak percaya bahwa itu bisa terjadi, ada
akhwat yang
berani’ menolak pinangan
kita. Bila kurang waras, mungkin akan keluar ucapan, berani-beraninya… atau
apa yang kurang dari saya…..?!

Akhi dan ukhti, jangan biarkan angan-angan membuai kita dan membuat diri menjadi tulul amal, panjang angan-angan.
Sadarilah semakin tinggi angan membuai kita, semakin sakit manakala tak
tergapai dan terjatuh. Ambillah sikap simbang setiap saat; bersiap diri menjadi
senang sekaligus kecewa. Sikap itu akan menjadi bufferl penyangga mental kita, apapun yang terjadi kelak.

Manakala kenyataan pahit yang ada di depan mata, sang akhwat menolak khitbah kita atau
sang ikhwan memilih
bunga’ yang lain, hati
ini tidak akan tercabik. Yang akan datang adalah keikhlasan dan sikap lapang
dada. Demikian pula saat ia menjatuhkan pilihannya pada kita, hati ini akan
bersyukur padaNya karena doa terkabul, keinginan menjadi kenyataan.

Menakjubkan perkara seorang mukmin, sesungguhnya urusannya seluruhnya baik
dan tidaklah hal itu dimiliki oleh seseorang kecuali bagi seorang mukmin. Jika
mendapat nikmat ia bersyukur maka hal itu baik baginya, dan jika menderita
kesusahan ia bersabar maka hal itu lebih baik baginya” (HR. Muslim)

Bukan Aib

Ditolak? Emang enak! Wah, mungkin demikian pikiran sebagian ikhwan. Malu, kesal dan kecewa
menjadi satu. Tapi itulah bentuk
perjuangan’ menuju
pernikahan. Kita tidak akan pernah tahu apakah sang pujaan menerima atau
menolak kita, kecuali setelah mengajukan pinangan padanya. Manakala ditolak
tidak usah malu, bukan cuma kita yang pernah ditolak, banyak ikhwan yang
senasib’ dan sependeritaan’.

Saatnya berjiwa besar ketika ditolak. Tidak perlu merasa terhina. Demikian pula saat
banyak orang tahu hal itu. Bukankah apa yang kita lakukan adalah sesuatu yang
benar? Mengapa mesti malu.

Kita mungkin takkan Bahagia’

Marah-marah karena lamaran tertolak? Mendoakan keburukan pada ikhwan yang tidak mencintai
kita? Itu bukan sikap seorang muslim/muslimah yang baik. Tidak ada yang bisa
melarang seseorang untuk jatuh cinta maupun menolak cinta. Sebagaimana kita
punya hak untuk mencintai dan melamar orang, maka ada pula hak yang diberikan
agama pada orang lain untuk menolak pinangan kita. Bahkan dalam kehidupan rumah
tangga pun seorang suami dan istri diberikan hak oleh Allah SWT. Untuk
membatalkan sebuah ikatan pernikahan.

Mengapa ada hak penolakan cinta yang diberikan Allah pada kita? Bahkan dalam pernikahan
ada pintu keluar
perceraian’?
jawabannya adalah sangat mungkin manusia yang jatuh cinta atau setelah
membangun rumah tangga, ternyata tak kunjung memperoleh kebahagiaan ( al hanaah ) dari pasangannya, maka tiada
guna mempertahankan sebuah bahtera rumah tangga bila kebahagiaan dan
ketentraman tak dapat diraih. Wallahu’alam
bi ash shawab

Talak (yang dapat dirujuki) dua kali. Setelah itu boleh rujuk lagi dengan cara yang ma’ruf
atau menceraikan dengan cara yang baik. (
Al-Baqarah[2]:229 )

Berpikir positiflah manakala cinta tak berbalas. Belum tentu kita memperoleh kebahagiaan
bila hidup bersamanya. Apa yang kita pandang baik secara kasat mata, belum
tentu berbuah kebaikan di kemudian hari.

Adakalanya keinginan untuk hidup bersama orang yang kita idamkan begitu menggoda. Tapi
bila ternyata cinta kita bertepuk sebelah tangan, untuk apa semua kita pikirkan
lagi? Allah Maha Pangatur, ia pasti akan mempertemukan kita dengan orang yang
memberikan kebahagiaan seperti yang kita angankan. Bahkan mungkin lebih dari
yang kita harapkan.

Be positive thinking, suatu hari kelak ketika antum telah menikah
dengan orang lain
bukan dengan
si dia yang antum idamkan- niscaya antum takjub dengan kebahagiaan yang antum
rasakan. Percayalah banyak orang yang telah merasakan hal demikian.

Saya tak mungkin berbahagia tanpanya’

ini adalah perangkap, ia akan memenjarakan kita terus menerus dalam kekecewaan. Perasaan
ini juga menghambat kita untuk mendapatkan kesempatan berbahagia dengan orang
lain. Mereka yang terus menerus mengingat orang yang pernah menolaknya, dan
masih terbius dengan angan-angannya sebenarnya tengah menyiksa perasaan mereka
sendiri dan menutup peluang untuk bahagia.

Mari berpikir jernih, untuk apa memikirkan orang lain yang sudah menjalani
kehidupannya sendiri? Jangan biarkan orang lain membatalkan kebahagiaan kita.
Diri kitalah yang bisa menciptakannya sendiri. Untuk itu tanamkan optimisme dan
keyakinan terhadap qadla Allah SWT. Insya Allah, akan ada orang yang
membahagiakan kita kelak.

Cinta membutuhkan waktu

Maukah ukhti menjadi istri saya? Saya tunggu jawaban ukhti dalam waktu 1 X 24 jam! Masya Allah,
cinta bukanlah martabak telor yang bisa di tunggu waktu matangnya. Ia
berproses, apalagi berbicara rumah tangga, pastinya banyak
pertimbangan-pertimbangan yang harus dipikirkan. Ada unsur keluarga yang harus
berperan. Selain juga ada pilihan-pilihan yang mungkin bisa diambil.

Jadi harap dipahami bila kesempatan datangnya cinta itu menunggu waktu. Seorang
akhwat yang akan dilamar
contoh extrim pada kasus diatas- bisa jadi tidak serta
merta menjawab. Biarkanlah ia berpikir dengan jernih sampai akhirnya ia
melahirkan keputusan. Jadi cara berpikir seperti di atas sebenarnya lebih cocok
dimiliki anggota tim SWAT ketimbang orang yang berkhitbah

Ideal bagus, Tapi realistik adalah sempurna

Suami yang saya dambakan adalah yang bertanggungjawab pada keluarga, giat berdakwah dan rajin
beribadah, cerdas serta pengertian, penyayang, humoris, mapan dan juga
tampan.Itu mungkin suami dambaan Anda duhai Ukhti . tapi jangan marah bila saya
katakan bahwa seandainya kriteria itu adalah harga mati yang tak tertawar, maka
yang ukhti butuhkan bukanlah seorang ikhwan melainkan kitab-kitab pembinaan.
Kenyataannya tidak ada satupun lelaki didunia ini yang bisa memenuhi semua
keinginan kita. Ada yang mapan tapi kurang rupawan, ada yang rajin beribadah
tapi kurang mapan, ada yang giat dakwah dakwah tapi selalu merasa benar
sendiri, dsb.

Ini bukan berarti kita tidak boleh memiliki kriteria bagi calon suami/istri kita,
lantas membuat kita mengubah prinsip menjadi yang penting akhwat
atau yang
penting ikhwan. Tapi realistislah, setiap menusia punya kekurangan sekaligus kelebihan. Mereka yang menikah
adalah orang-orang yang berani menerima kekurangan pasangannya, bukan
orang-orang yang sempurna. Tapi berpikir realistis terhadap orang yang akan
melamar kita, atau yang akan kita lamar, adalah kesempurnaan

Maka doa kita kepada Allah bukanlah,berikanlah padaku
pasangan yang sempurna tetapi ya Allah, karuniakanlah padaku pasangan yang baik
bagi agamaku dan duniaku.

Kekuatan Ruhiyah

Percaya diri itu harus, tapi overselfconfidence adalah
kesalahan. Jangan terlalu percaya diri akhi bahwa lamaran antum diterima.
Jangan juga terlalu yakin ukhti, bahwa sang pujaan akan datang ke rumah anti.
Perjodohan adalah perkara gaib. Tanpa ada seorang pun yang tahu kapan dan
dengan siapa kita akan berjodoh. Cinta dan berjodohan tidak mengenal status dan
identifikasi fisik. Bukan karena ukhti cantik maka para ikhwan menyukai ukhti.
Juga bukan karena akhi seorang hamalatud
da’wah
lalu setiap akhwat mendambakannya.

Kita tidak bisa mengukur kebahagiaan orang lain menurut persepsi kita. Bukankah sering kita
melihat seseorang yang menurut kita
luar
biasa
berjodoh dengan yang biasa-biasa’. Seperti seringnya kita melihat
pasangan yang ganteng dan cantik, populer tapi kemudian berpisah. Inilah
rahasia cinta dan perjodohan, tidak bisa terukur dengan ukuran-ukuran manusia

Maka landasilah rasa percaya diri kita dengan sikap tawakal kepada Allah. Kita
berserah diri kepadaNya akan keputusan yang ia berikan. Jauhilah sikap takkabur
dan sombong. Karena itu semua hanya akan membuat diri kita rendah dihadapan
Allah dan orang lain. Intinya saya bermaksud mengatakan
jangan ke-ge-er-an’
dengan segala title dan atribut yang melekat pada diri kita.

Beri cinta kesempatan (lagi)

……..dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa
dari rahmat Allah,melainkan kaum yang kafir.
( QS. Yusuf[12]:87 )

bersedih hati karena gagal bersanding dengan dambaan hati wajar adanya. Tapi bukan
alasan untuk menyurutkan langkah berumah tangga. Dunia ini luas, demikian pula
dengan orang-orang yang mencintai kita. Kegagalan cinta bukan berarti kita
tidak berhak bahagia atau tidak bisa meraih kebahagiaan. Bila hari ini Allah
belum mempertemukan kita dengan orang yang kita cintai, insyaAllah ia akan
datang esok atau lusa, atau kapanpun ia menghendaki, itu adalah bagian dari
kekuasaanNya

cinta juga berproses. Ia membutuhkan waktu. Ia bisa datang dengan cepat tak terduga atau
mungkin tidak seperti yang kita harapkan. Ada orang yang dengan cepat berumah
tangga, tapi ada pula yang merasakan segalanya berjalan lambat, namun tidak
pernah ada kata terlambat untuk merasakan kebahagiaan dalam pernikahan.
Beri kesempatan diri kita untuk kembali merasakan
kehangatan cinta. love is knocking outside the door.’ Kata
musisi Tesla dalam senandung love will find
a way.
Tidak pernah ada kata menyerah untuk meraih kebahagiaan
dalam naungan ridhoNya. Yang pokok, ikhwan atau akhwat yang kelak akan menjadi
pasangan kita adalah mereka yang dirihoi agamanya.

jika melamar kepada kalian seseorang yang kalian ridho agamanya dan akhlaknya maka nikahkanlah ia, bila kalian tidak melakukannya
maka akan ada fitnah di muka bumi dan kerusakan yang nyata
(HR. Turmudzi)

Wanita dinikahi karena satu dari tiga hal; dinikahi karena hartanya, dinikahi karena
kecantikannya, dinikahi karena agamanya. Maka pilihlah yang memiliki agama dan
akhlak (mulia) niscaya selamat dirimu.
(HR.Ahmad)

Oleh: Iwan Yanuar

April 17, 2008 Ditulis oleh learnwithedo | Pembangun Jiwa | | Belum Ada Tanggapan

Seni dalam pergaulan

Pergaulan yang asli adalah pergaulan dari hati ke hati yang penuh keikhlasan, yang insya Alloh akan terasa sangat indah dan menyenangkan. “Aku Bukan Ancaman Bagimu”, “Aku Menyenangkan Bagimu” dan Aku Bermanfaat Bagimu” indah bukan yuk..! kita gali dan amalkan…

Aku Bukan Ancaman Bagimu

Rasulullah SAW bersabda, “Muslim yang terbaik adalah muslim yang muslim lainnya selamat/merasa aman dari gangguan lisan dan tangannya.”(HR. Bukhari)

a. Hindari Penghinaan, apapun yang bersifat merendahkan ejekan, penghinaan, baik tentang kepribadian, bentuk tubuh dsb, jangan pernah dilakukan karena tak ada masalah yang selesai dengan penghinaan,mencela, merendahkan yang ada adalah persaan sakit hati serta rasa balas dendam.

b. Hindari Ikut Campur Urusan Pribadi, seperti yang kita maklumi setiap orang punya urusan pribadi yang sangat sensitif, yang bila terusik niscaya akan menimbulkan keberangan.

c. Hindari Memotong Pembicaraan, latihlah diri untuk bersabar dalam mendengar dan mengoreksi dengan cara yang terbaik pada waktu yang tepat.

d. Hindari Membandingkan, jangan pernah dengan sengaja membandingkan jasa, kebaikan, penampilan, harta, kedudukan seseorang sehingga yang mendengarkan merasa dirinya tidak berharga, rendah atau merasa tehina.

e. Jangan Membela Musuhnya, Mencaci Kawannya. Bersikaplah yang netral, sepanjang diri kita menginginkan kebaikan bagi semua pihak, dan sadar bahwa untuk berubah harus siap menjalani proses dan tahapan.

f. Hindari Merusak Kebahagiannya, bila seseorang sedang berbahagia, janganlah melakukan tindakan yang akan merusak kebahagiannya.

g. Jangan Mengungkit Masa Lalu, setiap orang memiliki kesalahan yang sangat ingin disembunyikan termasuk diri kita jadi jangan usil untuk mengungkit dan membeberkannya.

h. Jangan Mengambil Haknya, yuk! belajar menikmati hak kita saja agar bermanfaat dan menjadi bahan kebahagiaan orang lain.

i. Hati-Hati Dengan Kemarahan, yuk! mulai berlatih mengendalikan amarah sekuat tenaga dan tak perlu sungkan untuk meminta maaf andaikata ucapan dirasakan berlebihan.

j. Jangan Menertawakannya, ingatlah bahwa tertawa yang tidak pada tempatnya serta berlebihan akan mengundang rasa sakit hati.

k. Hati-hati Dengan Penampilan, Bau Badan dan Bau Mulut, tidak ada salahnya mengontrol penampilan agar orang disekitar kita tidak merasa terusik kenyamanannya dan cenderung ingin menghindari kita.

AKU MENYENANGKAN BAGIMU

a. Wajah Yang Selalu Ceria, Rasulullah senantiasa berwajah ceria, beliau pernah bersabda, “Janganlah terlalu membebani jiwamu dengan segala kesungguhan hati. Hiburlah dirimu dengan hal-hal yang ringan dan lucu, sebab bila hati terus dipaksakan memikul beban-beban yang berat, ia akan menjadi buta”.(HR. Abu Daud)

b. Senyum Tulus. Senyum adalah Sedekah, senyuman yang tulus memiliki daya sentuh yang dalam ke dalam lubuk hati siapapun, senyum tidak dimiliki oleh orang-orang yang keji, sombong,angkuh dan busuk hati.

c. Kata-Kata Yang Santun dan Lembut. Hindari kata yang kasar, menyakitkan, merendahkan, mempermalukan, serta hindari pula nada suara yang keras dan berlebihan.

d. Senang Menyapa dan Mengucapkan Salam, Jabatlah tangan kawan kita penuh dengan kehangatan dan lepaslah tangan sesudah dilepaskan orang lain, karena demikianlah yang dicontohkan Rasulullah. Jangan lupa menjawab salam dengan sempurna dan penuh perhatian.

e. Bersikap Sangat Sopan dan Penuh Penghormatan. Rasulullah jikalau berbincang dengan para sahabatnya selalu berusaha menghormati dengan cara duduk yang penuh perhatian, ikut tersenyum jika sahabatnya melucu, ikut merasa takjub ketika sahabatnya mengisahkan hal yang mempesona, sehingga setiap orang merasa dirinya sangat diutamakan oleh Rasulullah.

f. Senangkan Perasaannya. Pujilah dengan tulus dan tepat sambil dikaitkan dengan kebesaran Alloh atas segala nikmatNya, nyatakan terima kasih dan do’akan, hal ini akan membuatnya merasa bahagia, insya Alloh.

g. Penampilan Yang Menyenangkan, gunakanlah pakaian yang rapi, serasi dan harum. Alloh Maha Indah dan menyukai keindahan tentu saja dalam batas yang sesuai syariat yang disukai Alloh.

h. Maafkan Kesalahannya, jadilah pemaaf yang lapang dan tulus terhadap kekurangan dan kesalahan orang lain, hal itu akan membuat bahagia dan senang siapapun yang pernah melakukan kekhilafan terhadap kita.

AKU BERMANFAAT BAGIMU

Keberuntungan kita bukanlah diukur dari apa yang kita dapatkan tapi dari nilai manfaat yang ada dari kehadiran kita, bukankah sebaik-baik manuasia adalah orang yang paling banyak manfaatnya bagi hamba-hamba Alloh lainnya.

a. Rajin Bersilaturahmi, silaturahmi secara berkala, penuh perhatian, kasih sayang dan ketulusan walaupun beberapa saat, akan memiliki kesan yang mendalam, apalagi membawa hadiah, insya Alloh akan menumbuhkan kasih sayang.

b. Saling Berkirim Hadiah, jangan pernah takut miskin dengan memberikan sesuatu karena Alloh Yang Maha Kaya telah menjanjikan ganjaran dan Jaminan tak akan miskin bagi ahli sedekah yang tulus.

c. Tolong dengan Apapun, bersegeralah menolong dengan segala kemampuan, harta, tenaga, waktu atau setidaknya perhatian yang tulus walau perhatian mendengar keluh kesahnya. Apabila tak mampu maka doakanlah dan percayalah bahwa kebaikan sekecil apapun akan diperhatikan dan dibalas dengan sempurna oleh Alloh SWT

d. Sumbangan Ilmu dan Pengalaman, jangan pernah sungkan mengajarkan ilmu dan pengalaman yang dimiliki. Kita harus berupaya agar ilmu dan pengalaman kita bisa menjadi jalan bagi kesuksesan orang lain.

Insya Alloh jikalau hidup penuh manfaat dengan tulus ikhlas maka kebahagiaan dala bergaul dengan siapapun akan terasa nikmat, Kenikmatan semata karena mengharap Ridha Alloh SWT.

April 13, 2008 Ditulis oleh learnwithedo | Pembangun Jiwa | | & Komentar

Membidadarikan Diri

Agar Bidadari Cemburu Padamu

Setangkai Cindera Hati

Untuk Wanita Shalihah Pendamba Surga,

Pembuat Iri Bidadari dan Para Lelaki Yang Ingin Menikahi

“Sesungguhnya orang-orang bertaqwa berada ditempat yang aman. Di dalam taman -taman dan mata air – mata air. Mereka memakai sutera halus dan sutera tebal,(duduk) berhadap-hadapan.Demikianlah…dan Kami jodohkan mereka kepada bidadari bermata jeli”(QS. Ad Dukhan 51-54)

Satu ayat lagi hafalan kita bertambah. Kata bermata jeli dalam ayat ini, membuka sebuah dialog panjang antara Ummu Salamah dengan Rasulullah SAW. Dialog ini merangkum sifat-sifat bidadari yang ingin kita kenali.Jika membacanya anda menjadi cemburu pada bidadari, maka tenanglah. Karena sungguh indah, bahwa dialog beliau berdua diakhiri dengan peyakinan bahwa wanita dunia lebih baik dan patut dicemburui oleh bidadari. Wanita dunia yang bagaimana?Simak Saja?

Al Imam Ath Thabrani meriwayatkan sebuah hadits dari Ummu Salamah,

bahwa ia Radhiyallahu’Anha berkata,”Ya Rasulullah, jelaskan padaku firman Alloh tentang bidadari-bidadari yang bermata jeli…”

Beliau menjawab,”Bidadari yang kulitnya bersih,matanya jeli dan lebar, rambutnya berkilau bak sayap burung Nasar.”

Aku (ummu salamah) berkata lagi,”Jelaskan padaku ya Rasulullah, tentang firmanNya: “Laksana mutiara yang tersimpan baik…”(QS. Al Waqi’ah 23)

Beliau menjawab,” Kebeningannya seperti kebeningan mutiara di kedalaman lautan, tak pernah tersentuh tangan manusia…”

Aku bertanya,” Ya Rasulullah jelaskanlah kepadaku tentang firman Alloh; “ Di dalam surga itu ada bidadari yang baik-baik lagi cantik-cantik…”(QS Ar Rahman 70)

Beliau menjawab,” Akhlaqnya baik dan wajahnya cantik jelita”.

Aku bertanya lagi,” Jelaskan padaku firman Alloh: “ Seakan-akan mereka adalah telur (burung unta) yang tersimpan baik…”(QS As Shaffat 49)

Beliau menjawab,” Kelembutannya seperti kelembutan kulit yang ada bagian dalam telur dan terlindung dari bagian luarnya, atau yang biasa disebut putih telur.”

Aku bertanya lagi,” Ya Rasulullah jelaskan padaku firman Alloh ; “Penuh cinta lagi sebaya umurnya…”(QS Al Waqi’ah 37)

Beliau menjawab,” Mereka adalah wanita-wanita yang meninggal di dunia dalam usia lanjut dalam keadaan rabun dan beruban.Itulah yang dijadikan Alloh tatkala mereka sudah tahu, lalu Alloh menjadikan merka sebagai wanita-wanita gadis, penuh cinta, bergairah, mengasihi, dan umurnya sebaya.”

Aku bertanya,” Ya Rasulullah, manakah yang lebih utama, wanita dunia ataukah bidadari bermata jeli?”

Beliau menjawab,” Wanita-wanita dunia lebih utama daripada bidadari-bidadari seperti kelebihan apa yang nampak dari apa yang tidak terlihat.”

Aku bertanya,” Mengapa wanita-wanita dunia lebih utama daripada bidadari?”

Beliau menjawab,”Karena Shalat mereka, puasa dan ibadah mereka kepada Alloh. Alloh meletakkan cahaya diwajah mereka, tubuh mereka adalah kain sutera, kulitnya putih bersih, pakaiannya berwarna hijau, perhiasannya kekuningan, sanggulnya mutiara, dan sisirnya terbuat dari emas.Mereka berkata,”Kami hidup abadi dan tidak mati. Kami lemah lembut dan tidak jahat sama sekali. Kami selalu mendampingi dan tidak beranjak sama sekali. Kami ridha dan tidak pernah bersungut-sungut sama sekali. Berbahagialah orang yang memiliki kami dan kami memilikinya.”

Aku berkata,” Ya Rasulullah, salah seorang wanita diantara kami pernah menikah dengan dua, tiga atau empat laki-laki lalu meninggal dunia.Dia masuk surga dan merekapun masuk surga. Siapakah diantara laki-laki itu yang menjadi suaminya di surga?”

Beliau menjawab,” Wahai Ummu Salamah, wanita itu disuruh memilih, lalu diapun memilih siapa diantara mereka yang paling baik akhlaqnya. Lalu dia berkata,”Rabbi, sesungguhnya lelaki inilah yang paling baik tatkala hidup bersamaku di dunia. Maka nikahkanlah aku dengannya…”

…Wahai Ummu Salamah, akhlaq yang baik itu akan pergi membawa dua kebaikan, dunia dan akhirat.” (HR Ath Thabrani)

Sudah anda temukan potensi keunggulan anda bukan? Shalat, puasa dan ibadah. Segala yang bisa dicakup oleh kata ibadah, segala kebaikan yang ditujukan untuk mencari keridhaan Alloh. Semata karena Alloh dan untuk Alloh.

Dikutip dari buku “Agar Bidadari cemburu padamu”

Penulis : Salim A. Fillah

April 7, 2008 Ditulis oleh learnwithedo | Pembangun Jiwa | | & Komentar